Kirimkan Tulisan Anda (Opini, Kolom, Feauture) ke Email Redaksi kerincitoday@gmail.com

Senin, 25 Februari 2013

Ajaran Sapta Dharma Resahkan Warga


 
KERINCI TODAY – Kecamatan Kayu Aro, yang berada di kaki gunung kerinci, memang kaya dengan anekaragam budaya, ras, agama, kesenian, dan aliran-aliran serta paham tentang tuhan, mulai dari Ahmadiyah, dan akhir-akhir ini muncul lagi aliran Sapta Dharma.

Munculnya aliran Sapta Dharma, membuat sebagai besar warga resah. Pasalnya, kelompok tersebut saat ini sudah mulai terang-terangan membangun tempat ritual mereka sendiri, yang disebut sanggar yang dipuncaknya di pasang patung semar.

“Sebenarnya mereka sudah muncul sejak 2001 lalu, namun saat itu kegiatan mereka masih terselubung. Tapi saat ini mereka sudah punya gedung sendiri, sehingga meresahkan warga,” ujar Kepala Desa Mekar Jaya, Serengat, saat dikonfirmasi Kerinci Today, belum lama ini.

Meskipun tidak mengganggu secara langsung, namun keberadaan kelompok tersebut sudah sangat meresahkan warga, apalagi ada ritual mereka yang sujut ke arah timur. “Sebagian mereka memang masih ada yang mengerjakan shalat, hanya saja mereka tidak membaur dengan warga lainnya,” terang kades.

Anggota aliran ini lanjutnya, rata-rata merupakan keturunan jawa, dimana tempat aliran Sapta Dharma berasal. “Memang warga keberatan dengan keberadaan mereka. Apalagi selama ini mereka tidak mau membuka diri,” tegasnya Serengat.

Sementara itu, Polres Kerinci sudah melakukan langkah antisipasi, dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD), dengan menghadirkan tokoh masyarakat, pemerintah, adat, dan perwakilan Sapta Dharma.

FGD yang dipelopori Polres tersebut, dihadiri oleh perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kerinci, KUA Kayu Aro, Camat, Kepala Desa, serta beberapa orang pengikut Sapta Dharma, yang bertempat di Mushalla Nurul Iman, Desa Mekar Jaya.

Dalam pertemuan tersebut, disepakati dua keputusan, yakni menghentikan segala bentuk aktivitas yang berhubungan dengan Sapta Dharma. Selain itu, segala bentuk atribut yang berhubungan dengan Sapta Dharma, termasuk patung semar yang ada di Sanggar, harus dibongkar dan ditutup.

Kapolres Kerinci, AKBP Ismail, melalui Kasat Bimas, yang saat itu masih dijabat oleh AKP Amsal, mengatakan dilakukannya penertiban ini, untuk mencegah terjadinya keresahan dikalangan masyarakat, yang dikhawatirkan bisa menimbulkan gangguan Kamtibmas.

Semakin kuatnya keresahan ditengah masyarakat lanjutnya, sejak dibangunnya sanggar yang menjadi tempat ibadah pengikut Sapta Dharma tersebut. “Informasi dari warga, KTP mereka islam, namun mereka malah sujut ke timur dan bukan ke barat,” tambahnya.

Informasi yang di dapat Tribun dari berbagai sumber, Sapta Darma adalah sebuah kepercayaan dengan status satu-satunya kerohanian di Indonesia, yang mewajibkan warganya menyembah Allah Yang Maha Kuasa dan menjalankan hidupnya berdasarkan tujuh kewajiban suci (darma), agar selamat hidup dunia dan akhirat.

Wahyu Kerohanian Sapta Darma diterima oleh Bapak Hardjosapoero di Pare, Kediri Jawa Timur sebenarnya pada 26 Desember 1952 (malam Jumat Wage), namun kebanyakan orang mengenal 27 Desember 1952.

Dapat dikatakan juga bahwa Sapta Darma adalah sebuah aliran kebatinan yang berarti tujuh kewajiban atau tujuh amal suci. Pendiri aliran kebatinan Sapta Darma adalah Hardjosapoero atau nama panggilannya Pak Sapuro lahir pada tahun 1910 yang berasal dari Desa Sanding, daerah Kediri. Walaupun Ia buta huruf namun tidak menghalanginya untuk aktif dalam gerakan Pemuda Sosial Indonesia (PESINDO). Pekerjaan sehari-harinya selain sebagai tukang cukur, ia juga sebagai dukun yang memberikan obat-obatan dengan mengurut si sakit seperti Ilmu Magnetisme, yang dipelajarinya dari Bapak R.M Suwono yang tinggal di Yogyakarta. (eja)










Tidak ada komentar: