![]() |
| Salah seorang pedagang bawang di Pasar Tanjung Bajure sedang menunggu pembeli |
Kerinci, KT – Heboh soal kenaikan harga
bawang ternyata juga berimbas ke
Kabupaten Kerinci dan Kota Sungaipenuh, meski tidak semahal di Kabupaten dan
Kota lain di Indonesia. Harga bawang di wilayah paling Barat Provinsi Jambi ini
cukup mencekik pembeli.
Pantauan
Kerinci Today di Pasar Tanjung Bajure kemarin, harga salah satu bumbu dapur ini
mencapai Rp48 ribu perkilogram. Sebelumnya 3 hari lalu masih dijual pedagang
Rp24 ribu, namun sekarang naik dua kali lipat.
Eva,
salah seorang pedagang mengatakan, tren kenaikan harga bawang sudah mulai
dirasakan pedagang sejak 3 hari lalu. Pada Selasa (12/3), harga bawang merah
masih berkisar Rp24 ribu. Namun pada hari
Rabu naik menjadi Rp28 ribu, hingga akhirnya kemarin meroket hingga Rp48 ribu
perkilogram.
“Biasanya
bawang dari Brebes masuk, tapi sekarang nggak ada lagi. Harga bawang Brebes di
kota asalnya saja sekarang Rp70 ribu,” ujar Eva.
“Kalau
mau beli bawang ya sekarang, besok harganya semakin naik. Soalnya stok bawang
dari petani sedikit, di gudang saja sudah habis,” lanjut Eva.
Kenaikan
harga bawang, tidak hanya dikeluhkan pembeli tapi juga pedagang. Sejak harga
bawang naik, penghasilan pedagang menurun. “Biasanya sehari bisa jual 100
kilogram, sekarang 30 kilogram saja sudah syukur,” pungkas Eva.
Sementara
itu, Kepala Seksi (Kasie) Pengadaan dan Penyaluran Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Kota Sungai Penuh, Dond Erdiner saat dikonfirmasi terkait kenaikan
harga bawang kemarin (14/3) mengatakan, pihakya tidak bisa berbuat banyak.
“Kita
bukan regulator, kita hanya fasilitator.”
“Harga
ditentukan oleh mekanisme pasar, dengan rumus permintaan dan penawaran. Soal
operasi pasar (OP) juga tidak bisa kita lakukan. Kalau beras kan ada
penyangganya, seperti Bulog, kalau bawang kita harus cari dimana,” kata Dond
Erdiner.
Lebih
lanjut Dond Erdiner mengatakan, kenaikan harga bawang menyangkut beberapa
instansi, tidak hanya Dinas Perdagangan, Dinas Pertanian dan Badang Ketahanan
Pangan juga memiliki peran. “Kalau produksinya banyak, ya otomatis tidak mahal,”
pungkasnya.(ivan)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar